Gunung Kerinci – Bukittinggi Sumbar (3805 mdpl)
01 Thursday Apr 2010
Posted in Hiking Trips, Traveling Trips
01 Thursday Apr 2010
Posted in Hiking Trips, Traveling Trips
01 Thursday Apr 2010
Posted in Hiking Trips
31 Wednesday Mar 2010
Posted in Hiking Trips
31 Wednesday Mar 2010
Posted in Fishing!, Hiking Trips, Traveling Trips
Berangkat: Jumat 29 Juni 2007
Pulang: Jumat 6 Juli 2007
29 Monday Mar 2010
Posted in Hiking Trips
29 Monday Mar 2010
Posted in Hiking Trips
29 Monday Mar 2010
Posted in Hiking Trips
29 Monday Mar 2010
Posted in Hiking Trips
28 Thursday May 2009
Posted in Hiking Trips
Akhir-akhir ini semua orang dan TV lagi heboh membicarakan adik adik mapala sebuah perguruan tinggi swasta yang konon hilang di Gunung Salak, yang pada akhirnya ternyata mereka sehat-sehat saja.. Karena salah satu dari mereka ternyata sempat terpisah dari rombongan dan panik karena bekal makanan tinggal sedikit dan alas kakinya rusak jadi dia sms keluarganya meminta pertolongan.
Alhasil, sekitar 80 orang tim SAR yang terdiri dari berbagai kelompok pecinta alam dari berbagai daerah dan masyarakat sekitar yang bersimpati segera melakukan pencarian.
Dan ternyata pada saat ‘ditemukan’ mereka sedang tertawa-tawa sambil makan sup ayam! *grrrlll ![]()
Di milis pendaki dan pangrango, kejadian ini membuat para mahasiswa tadi menjadi bahan cemooh dan olok-olok, yang pada akhirnya mengundang banyak spekulasi dan pertanyaan kenapa ya hal seperti ini bisa terjadi. Bahkan pada saat di interview salah satu stasiun TV swasta mereka bukannya berterima kasih karena telah dicari malah bilang bahwa mereka baik-baik saja tidak perlu di cari.. dan dengan arogannya mereka bilang bahwa mereka bawa persiapan makanan buat 2 hari! haaa?? seandainya mereka betul-betul terkena badai dan tidak bisa turun, apa cukup persediaan makanan buat 2 hari?
Sepertinya faktor safety ini sudah tidak penting ya buat mereka, yang terpenting adalah bagaimana mencapai puncak dan segera turun lagi..Well, manusia bisa berencana, tapi apakah faktor lainnya tidak masuk dalam hitungan?
Saya kebetulan bergabung bersama teman-teman dalam grup backpacker yang sering naik gunung, dan kami selalu mendaki dengan peralatan lengkap, itinerary yang jelas, spare makanan, baju, obat-obatan bahkan semakin hari kami semakin memikirkan kenyamanan mendaki dengan melengkapi trip pendakian kami dengan peralatan-peralatan yang menurut adik-adik mapala mungkin ‘manja’ dan tidak perlu seperti GPS dll.
Bahkan apabila kami naik gunung yang belum pernah kami daki, kami menyewa jasa porter (yang pastinya warga lokal dan sudah mengenal medan) untuk lebih mengamankan trip pendakian kami. Apakah apa yang kami lakukan itu sungguh perlu? atau justru berlebihan? Sebetulnya semua berpulang kepada pendaki itu sendiri, apa yang dicari? ada beberapa alasan seperti untuk menikmati alam, menaklukan ego, keluar dari rutinitas sehari-hari, refreshing, dll namun tetap saja seharusnya setiap trip pendakian direncanakan dengan sematang mungkin dan dengan persiapan yang maksimal. Karena sekali lagi yang kita cari keselamatan dan kenyamanan di dalam pendakian itu sendiri kan.. Tetapi kalau yang ‘diincar’ hanya bagaimana pun caranya harus mencapai puncak, saya rasa ini yang membuat kita lengah dan menyepelekan alam.. Saya sering heran kalau di gunung bertemu dengan rombongan pendaki yang ‘hanya’ menggunakan sandal jepit dan membawa backpack seadanya. Sementara mereka juga terbengong-bengong melihat kami yang membawa peralatan perang lengkap
plus porter pula.. Saya tidak bermaksud menyombong dengan mengatakan bahwa kami lebih siap, tentu tidak.. hanya saja, mendaki gunung itu kegiatan yang cukup berbahaya apalagi kalau kita sombong dan meremehkan alam. Kita tidak pernah tahu apa yang ada dan akan terjadi di atas sana..Namun kalau mempersiapkan diri dengan matang, pasti kita juga menjadi lebih tenang menghadapi situasi apapun. Saya sering miris dan sedih mendengar banyak kecelakaan-kecelakaan yang menimpa pendaki, bukan karena faktor yang di luar kemampuan kita, tetapi lebih karena meremehkan alam dan tidak adanya persiapan yang matang.
Semoga ke depannya para pendaki Indonesia lebih bertanggung jawab terhadap keselamatan diri dan timnya ya di dalam setiap pendakian. Apakah itu ke gunung yang relatif mudah dan sering di daki dan terlebih lagi apabila ke gunung yang memiliki reputasi sulit di daki.
Karena pada akhirnya, di atas puncak sana, di antara bentangan awan dan pemandangan yang keindahannya menyesakkan dada, kita akan dipaksa untuk menyadari bahwa kita hanyalah sebuah titik di alam ciptaanNya, dan betapa tidak berartinya semua ego dan keangkuhan manusia.
Dee